Krau Wildlife Reserve merupakan suaka alam terluas di Malaysia dengan luas mencapai 60.349 ha. Kawasan ini terletak di pusat negara bagian Pahang, di bagian selatan kota Lanchang Malaysia, dan telah dideklarasikan semenjak zaman penjajahan Inggris. Kawasan ini dikelola dibawah Department of Wildlife and National Parks / DWNP (PERHILITAN). Pada tahun 1960-an Lord Medway, salah satu tokoh Zoologi (Baca Mammal of South East Asia) melakukan ekspedisi ke Gunong Benom (2110 m asl), yang akhirnya banyak menarik minat peneliti, biolog dan primatolog untuk melakukan penelitian pada bagian timur kawasan ini yang disebut Kuala Krau. Sebagai hutan Dipterocarpaceae dataran rendah, kawasan ini mempunyai keanekaragaman jenis burung yang sangat tinggi, disini juga banyak ditemukan jenis mmalia seperti primate dan keleawar. Dalam kawasan ini juga terdapat Kuala Gandah, yang merupakan pusat pengelolaan gajah (Elephas maximus)yang mengalami konflik dengan manusia. Terdapat juga pusat pembiakan Seladang (Bos gaurus) di Jenderak. Sejak tahun 2002, dikawasan ini juga terdapat Malayan Tapir Conservation Project, yang merupakan kerjasama Copenhagen Zoo dengan DWNP.
Kunjungan pertama tahun 2003 untuk ikut serta dalam Malayan tapir (Tapirus indicus) Population and Habitat Viability Analysis. Sedangkan kunjungan kali ini (2-5 April 2008) adalah untuk berpartsipasi dalam First Regional Symposium of Malayan tapir. Tidak banyak yang berubah dari fasilitas yang ada di Krau. Peserta symposium, menyepakati untuk mensinergikan kegiatan masing-masing dengan rencana aksi bersama:
Presentasi kali ini tentang kehadiran Tapir (Tapirus indicus) di sesapan (salt lick). Sebelumnya tulisan terkait pernah dimuat di jurnal Biota dan Box Chapter di buku Biologi Konservasi. Namun tulisan kali ini fokus hanya kepada tapir dengan lama waktu pengamatan 1 tahun. Ada pertanyaan menarik, apakah harimau pernah ke sesapan? Dan hasil kamera kami tidak merekam aktivitas tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar